Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Cemas

1 min read

Mereka yang kerap mencemaskan nasibnya di masa depan adalah mereka yang tak punya kenangan akan masa lalu. Namun, jika patut pula rasanya cemas, sebaiknya itu haruslah berdasar. Jika tidak, ia hanya ragu yang diumbar.

Kecemasan paling purba dalam sejarah manusia adalah perkara menemukan (kembali). Ketika Adam berjalan bertahun-tahun sendirian, sifat awal laki-laki lahir di sana, yaitu “ingin menemukan”. Saya mengatakannya bukan karena dari sekian banyak penemu adalah laki-laki, tapi lebih jauh dari itu: kodrat perempuan sejatinya adalah “sesuatu yang ditemukan”–oleh laki-laki.

Tapi tak ada kata “ingin” di sana. Barangkali itulah sebabnya mengapa perempuan tak patut bersembunyi jika ia ingin ditemukan.

Hawa juga berjalan; ia tak hanya diam di tempat menunggu Adam–yang mungkin saja tak akan ia temui lagi setelah pengusiran itu. Hawa juga berkejaran dengan waktu; ia tahu, menunggu tak akan membuatnya jadi “sesuatu”: pendamping Adam (kembali).

Tapi perjalanan memang tak pernah sebentar,–jika iya, barangkali kita tengah tersasar–dan nikmatnya sebuah perjalanan ialah kisah-kisah yang akan didengar.

Kita tak tahu apa yang diceritakan Adam kepada Hawa sebagai buah tangan dari perjalanan itu–pun sebaliknya. Tapi setidaknya kita tahu: perjalanan mengajarkan kedua moyang kita ini cara paling purba untuk melawan kecemasan: bersetia.

“Bukan kematian benar menusuk kalbu,” tulis Chairil Anwar, “tapi keridlaanmu menerima segala tiba”. Dan penyair kita ini tahu: bukan pertemuan-perpisahan yang membuat kita dewasa; tapi dari cara dan laku kita menjalani (-menerima) keduanya.

Mereka yang tak rela melepas masa lalu adalah mereka yang cenderung tak setia di masa depannya, sebagaimana mereka yang mencemaskan masa lalu, adalah mereka yang masih saja menunggu dari mana masa depan akan bermula. Padahal, itu terjadi dalam setiap tarikan napas kita.

Mereka yang mencemaskan masa depan adalah mereka yang tak punya tujuan dalam satu kesempatan bernama kehidupan.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *