Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Bocah

2 min read

Kita pernah jadi bocah, dan mungkin, selamanya akan begitu ….

Malam itu, seorang bocah bernyanyi dengan suara yang, mungkin, bukan miliknya. Di sebuah warung nasi goreng tepi jalan, gerimis jadi bunyi yang lain, yang akrab, persis seperti ketukan yang lambat ketika ia menghempas segala benda. Sayup-sayup saya dengar liriknya: itu lagu lama. Bocah itu hanya bertepuk tangan untuk mengimbangi nada yang tengah ia lantunkan. Malam jadi liris sekali.

Pesanan datang, begitu pula “tagihan” atas apa yang tadi ia pertunjukkan. Ke segala arah ia edarkan bungkusan permen itu–termasuk pada saya.

Hati-hati saya bertanya: “Kamu kelas berapa?” Ia jawab: “Saya tak sekolah lagi.” Tak ada lagi percakapan; malam bergetar dari kepala hingga kaki.

Saya tak perlu menyebut nominal di sini, tapi bungkusan itu saya isi.

Mengingat kejadian itu, saya terkenang sajak seorang kawan di Bandung. Judulnya “Gedebak Terompah”. Saya selalu gandrung pada lirik pertamanya:

“Masa kanak-kanakku dilalui sebuah trem. Kereta pernah memasuki tubuhku yang sempit seperti kretek …”

Apa yang menarik dari trem? Besi-besi rel yang hilang (karena dicuri) atau pelayanan kereta api yang kini boleh disebut mumpuni? Lupakan keduanya–ada yang lebih penting lagi: kehidupan di sekitar rel itu.

Saya tak tahu masa lalu Irham Kusuma, si empunya sajak itu, meski kami sering bertukar kabar. Tapi untuk soal permukiman di (bantaran) rel, kita tahu, segalanya seperti belum selesai: rumah-rumah reyot yang bangunannya didominasi kayu, anak-anak yang menggapai-gapai masa depan mereka yang putus-tali, perempuan-perempuan yang menyisir rambutnya dalam semerbak bau parfum murahan…

Memang, saya belum pernah ke sana. Hanya melewati Stasiun Senen, persisnya di depan dan itu hanya sekali. Tapi kita punya mesin yang mendokumentasikan itu semua: Google dan televisi. Kita bisa melihat semuanya dengan jelas–saking jelasnya kita bahkan sudah mual duluan membayangkan bau limbah dan sampah di sungai-sungai sekitar daerah “kumuh” itu.

Tapi semua upaya untuk meniadakan sifat dan laku bocah–dari dua situasi dan kondisi di atas–kiranya memang selalu berakhir sia-sia. Sebab “masa kecil yang dilalui sebuah trem”, dalam hemat saya, berarti satu hal: hidup dan kehidupan masa kanak dan/atau bocah memang kita lalui dengan kilas peristiwa “orang dulu”, orangtua atau leluhur.

Begitu pula dengan bocah pengamen tadi. Saya seperti melihat orang-orang yang datang dan yang pergi dari, dan di, hidupnya; menyaksikan babak-babak “sejarah” hidup dan penghidupannya. Maka ketika ia menghitung uang yang diterimanya dari “kerja”, dari “laku bersusah-susah” itu, saya, dan barangkali kita, senantiasa melihat tekad yang bulat dengan tenaga yang tak seberapa.

Tapi apa yang tak seberapa–jika pada akhirnya semua juga tak berakhir sia-sia?

Dan malam itu, sang bocah–dengan penghasilan sekira Rp20 Rupiah dari warung itu, mengingatkan saya pada seorang bocah dalam diri ini dulu, dan mungkin masih hidup (dalam jiwa dan termanifestasi lewat laku). Sebab pada akhirnya, memang, dua potret (kemiskinan dan kemakmuran) akan terus bertikai-berseteru dalam diri seseorang–apatah lagi pada diri seorang bocah, yang belum lagi mengenal kekayaan, cinta dan sejarah.

Dan orang-orang kuat adalah mereka yang bertindak sebagaimana bocah di atas, dan barangkali, akan selamanya begitu: terjaga dari malam ke malam, untuk menyambung hidup dari pagi ke pagi.

Tapi bocah tetaplah bocah: tubuhnya “sempit seperti kretek”, antara jadi objek “pengisapan” dari orang-orang tak bertanggung jawab, dan subjek penghidupan sebagai bentuk dari pelaksanaan tanggung jawab.

Tapi saya, dan tentu kita, berdoa agar si bocah tadi tak akan selamanya begitu. Sebab malam tak akan terasa sebagai malam–sekalipun ia ada–jika yang dilakukan untuk menyambut kehadirannya (baca: terang pagi) hanya menunggu dan menunggu, tanpa berbuat sesuatu ….[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *