Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Bayi-bayi Reformasi

5 min read

Politik, agaknya, juga seni, meski kadang tak indah. Hal itu pula yang mungkin membuat cerita pahit di balik tegaknya tiang-tiang demokrasi yang berpuluh tahun dibenamkan oleh Orde Baru dan kroninya itu mungkin jarang atau tak lagi didengar oleh para mahasiswa hari ini. Sebab, barangkali, hal itu sudah kadung jadi dongeng atau bahkan pemeo tersendiri. Meski, di antara sebagian dari mereka, “bayi-bayi reformasi” yang saat ini berusia sekitar 21-25 tahun itu, masih ada yang mau atau bahkan antusias mendengarkan cerita para aktivis ’98 tentang kisah heroik sekaligus pilu tersebut, tapi dongeng tetaplah dongeng: hakikatnya selalu menjadi cerita aneh dan (kadang) tak masuk akal yang ditengarai penuh intrik dan “bumbu” di sana-sini. Bahkan mistik.
Tapi luka itu, jika ia ada, mungkin bernama Kivlan Zen.

Pada sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta nasional, pria berlatar belakang militer itu pernah bertanya kepada seorang aktivis Komnas HAM: “Kamu umur berapa tahun 1998 itu?” Tak ayal, anak muda itu langsung mati kutu. Ia mungkin ingin menyela. Ia pun merasa bisa. Tapi untuk menghadapi lawan debat sekaliber Kivlan Zen –yang penuh ambivalensi, baik dalam tindakan atau juga ucapan- ia pun memilih diam dan runduk. Kita bayangkan ia tak marah, meski rasa kesal selalu ada.

Di sisi lain, hadirin yang menyaksikan pun mungkin cemas saat itu. Tapi ia, pemuda berani itu, hanya tersenyum wajar. Ia tak membalas. Ia pun mungkin tahu atau benar-benar paham bahwa sejarah tak hanya milik pelakunya semata, tapi juga kepunyaan (meski hanya warisan) orang-orang setelahnya. Oleh karena itu, kita tahu, ia tentu tekun mempelajari segala macam hal terkait hari-hari di sekitar jatuhnya Orde Baru itu. Meski usianya muda, tapi ia tahu: sejarah tak pernah tua dan tak hanya milik orang-orang tua belaka. Maka tak heran jika pertanyaan yang, akhirnya, memancing kemarahan Kivlan Zen itu ia beberkan: “Bukankah memang Prabowo Subianto yang telah memerintahkan penculikan terhadap para aktivis pada tahun 1998 itu?”

Tapi kisah itu tentu hanyalah segelintir cerita dari ratusan riwayat lain yang penuh dengan berbagai penghakiman terhadap anak-anak yang masih berusia 3-5 tahun saat Soeharto membacakan pidato (terakhir) yang bersejarah itu. Sebab, memang akan selalu ada kisah lain yang tak terlulis dan luput dibicarakan. Namun, yang jelas, muatannya sama: anak-anak itu seakan tak dibiarkan untuk menggali terlalu dalam.

Mencermati hal itu, tentu kita bertanya: Apakah yang sebenarnya tengah terjadi? Tak cukupkah fakta-fakta sejarah yang selama ini juga tak terungkap itu? Apakah ini model baru dari skema pemberangusan terhadap rasa ingin tahu akan kebenaran yang tulus? Kita mungkin tak bisa menjawab. Tapi waktu mampu.

Tapi waktu kadang juga terlalu lambat menyodorkan jawaban akan hal itu, meski tetap tepat. Hal itulah yang terjadi kemudian: Kivlan Zen tak mampu menjawab pertanyaan berikutnya dari aktivis muda tersebut. Mungkin kondisinya persis seperti orang-orang dan penjabat di lingkaran istana yang tak bisa menjelaskan kepada para mahasiwa di tahun 1998 ketika ditanyakan kepadanya sampai kapan pemerintahan Soeharto itu bakal terus-terusan mengibuli mereka dan rakyat tentunya. Lalu politik jadi jenaka saat itu: Kivlan, yang merasa bisa menjawab pertanyaan, “Lantas, siapa yang mengerahkan Tim Mawar kalau bukan Prabowo?” akhirnya memilih bungkam. Sebuah lubang, agaknya, telah digali meski tak diniatkan sebagai jebakan dan Kivlan tak ingin jadi bagian dari mereka yang lebih dulu terperosok.

Tapi diam bukanlah jawaban. Anak muda itu terus mendesak dan Kivlan tetap memilih bungkam. Tapi, segudang pengalaman berikut prestasi yang dimiliki Kivlan tentu sedikit-banyak telah menempa seorang tentara berpangkat terakhir Mayor Jenderal itu. Meski ia bisa menjawab, tapi hal itu ia urungkan. Ia mungkin tahu: ke depan, kian banyak fakta baru yang selama ini dikubur, seketika bakal mencuat di hadapan publik hanya karena tindakan gegabahnya yang igin menjawab pertanyaan yang mungkin, menurutnya, bernada pancingan tadi.

Tapi di luar Kivlan, sejatinya, distorsi lain juga sering terjadi. Ada banyak kasus ketika, misalnya, orang-orang tua kita yang hidup di zaman Orde Baru menyebut bahwa pemerintahan Soeharto lebih baik. Barangkali kita ingin menjawab: mungkin. Sebab, transisi dari era Demokrasi Terpimpin atau bisa kita sebut juga Orde Lama ke Orde Baru, saat itu, kadang tak ubahnya atau nyaris serupa dengan yang terjadi di era Reformasi, yakni saat rakyat mulai sadar dan menghendaki perubahan.

Tapi sebaiknya kita lekas ingat Soe Hok Gie.

Tak lama setelah keruntuhan Orde Lama, kita tahu, Gie segera sadar bahwa ia telah menjadi salah satu dari sekian banyak perakit mesin penghancur selanjutnya di kurun itu. Gie pun mungkin juga tak pernah melihat bagaimana mesin bernama Orde Baru rakitannya itu kian bergerak liar pada tahun-tahun berikutnya, yakni dalam rentang 1980-1990an, tapi ia sudah merasakannya jauh-jauh hari. Indikasinya adalah gelombang pembantaian besar-besaran pada medio 1960an itu. Mereka yang memang, dicurigai, atau bahkan ada yang terpaksa mengaku jika ia komunis, dibantai habis. Keluarga tercerai-berai. Bahkan, di Bali, konon, seorang abang yang berhaluan Marhaenisme dengan berafiliasi ke PNI, bisa dengan dinginnya menghabisi sang adik yang disangkakan komunis meski ia tak terbukti bergabung dengan PKI.

Gie pun tahu dan ia mengerti hal itu: mesin baru ini, jika harus diperbandingkan, memang lebih kejam dari pemerintahan sebelumnya. Tapi ia riskan: ia ditinggalkan dan ketika akhirnya maut sampai kepadanya, yang ia takutkan barangkali bukan di mana esok liang makamnya akan digali, melainkan nasib dan, lebih jauh, pandangan dari orang-orang senegerinya di kemudian hari tentang rezim yang ia pernah perjuangkan tersebut.

Hal itulah yang memang terjadi kemudian: orang-orang mulai terikat pada sebuah buhul bernama pemaksaan. Kebencian pun mulai dilembagakan dan rasa curiga ditebar dan diembuskan ke seluruh penjuru negeri. Anak-anak yang tak mengerti pada situasi politik sebelum remaja itu lantas juga mesti menanggung aib yang sengaja ditimpakan kepada keluarganya. Sebagian yang lain dicekoki dengan propaganda melalui pemutaran film dan buku sejarah yang ditulis oleh “sejarawan bayaran”. Tak ayal, situasi itu pun merembet ke bidang lain: pers dibungkam dan kebebasan berserikat dinihilkan. Bahasa kian “berbunga” tapi kehilangan semangat juang dan daya.

Oleh karena itu, tak heran jika orang-orang tua yang hidup hingga kini sejak masa Orde Baru tersebut dengan mimik bijaksana akan berkata bahwa masa itu merupakan masa yang indah. Adapun dalihnya melulu sama: keamanan terjaga karena situasi kondusif dan semacamnya. Atau harga-harga yang stabil juga murah karena swasembada di hampir semua kebutuhan pangan, padahal mereka lupa bahwa pemimpin yang setiap lima tahun sekali dikukuhkan lagi jabatannya itu telah menipu mereka.

Masa itu pun, agaknya, bukan masa yang membenarkan negosiasi alih-alih rekonsiliasi. Lalu di balik pembungkaman itu juga selalu ada cerita sedih yang tak seharusnya terjadi: mayat-mayat bergelimpangan sebagai korban penembakan misterius (Petrus), tindak pidana korupsi yang kian mewabah sampai ke tingkat pemerintahan paling bawah, dan penyensoran terhadap segala sesuatu yang dinilai berpotensi melahirkan upaya makar. Di situlah dongeng-dongeng tua tadi menjadi aneh: di satu sisi mereka menyebut situasi negara aman dan sentosa, tapi di sisi lain mereka lupa bahwa demi tercapainya hal itu ada banyak jiwa yang mesti direnggut. Ada banyak istri yang kehilangan suami mereka, anak-anak yang tak tahu siapa ayahnya, begitu juga sebaliknya.

Tapi, selalu, dari dan dalam situasi tertekan itulah akan muncul para pahlawan.

Akhirnya, mereka pun menampakkan diri: mahasiswa dan mereka yang tak terjebak akan hegemoni kuasa di era tersebut. Hingga, singkat cerita, petaka itu tiba: kerusuhan merebak di mana-mana, penjarahan berbiak nyaris di seluruh kota besar berikut gelombang protes yang kian tak tepermanai. Presiden yang mulai ditinggalkan para pembesarnya itu pun, akhirnya, memilih untuk mundur. Lalu sebuah era bangkit di antara reruntuhan itu: Reformasi.

Tapi kita tahu bahwa tak ada yang benar-baru di muka bumi. Mungkin karena itu pula selalu ada “sisa kuas orang lain” di dinding rumah “yang baru dibeli” ini. Dalam arti, jejak-jejak yang kumal itu memang tak seluruhnya terhapus. Meski begitu, kelahiran Reformasi tersebut tentu perlu diapresiasi. Ada banyak perubahan yang ia tawarkan kepada generasi selanjutnya dan itu mesti dirawat dan dijaga demi arah perbaikan yang ingin diwujudkan bersama.

Tapi di situ pula, agaknya, kita jadi paham: yang ditebas bisa saja kembali bertunas dan yang hancur juga akan berusaha kembali untuk meleburkan diri dalam struktur. Mungkin karena itu pula “bayi-bayi reformasi” itu kian lupa akan apa yang telah dititiskan oleh para pendahulu mereka. Sebab, beragam upaya pelurusan sejarah yang kian masif belakangan ini bukan tanpa perlawanan dari mereka yang dulu pernah ditumbangkan. Hal itu mungkin biasa sebab hidup pun memang butuh dinamika: yang dulu menyumpah, kini pun dengan santainya bisa duduk bersama dengan yang dulu pernah disumpahi, atau sebaliknya.

Tapi, yang jelas, kita tentu berharap bahwa “bayi-bayi reformasi” yang dulu masih tertidur di buaian mereka saat rezim itu jatuh, saat ini tak pula dibuai zaman. Setidaknya mereka harus berusaha untuk menggali sesuatu yang jarang mereka dengar saat ini, entah bagaimana caranya. Hal itu, tak lain, tentu agar mereka, di satu sisi, tak hanya memuja-muja pergerakan mahasiswa di tahun 1998 itu, tapi, di sisi lain, ternyata bersalaman bahkan bersimpati kepada para penjagal yang hingga kini masih bebas melenggang ke sana-sini itu. Bahkan, di panggung politik.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *