Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Batas

2 min read

Waktu masih menjadi misteri tersendiri. Mungkin itu sebabnya “menunggu” jadi punya arti.

Ketika kawan dan kenalan mengatai kita sombong, ada jawaban menarik yang selalu bisa diberikan. Salah satunya: “Aku tidak sombong. Kamu saja yang mungkin masih terlalu lugu untuk tahu jika hidup dibatasi waktu.”

Dengan berkata demikian, maksud yang diutarakan adalah pertanyaan sederhana: “Mengapa menunggu jika masih punya waktu untuk hal-hal baru; kemungkinan-kemungkinan baru; pertemanan-pertemanan baru, misalnya?”

Begitu pula dengan cinta. Tapi adagium usang selalu terpatri di kepala: “Menunggu adalah hal yang paling membosankan”–meski ia juga (terkadang) tak berakhir sia-sia.

Ada sebuah cerita tentang bagaimana laku menunggu:

Seorang pria menunggu mantan kekasihnya di tempat kali pertama mereka berjumpa. Hari sudah sore saat itu. Sore itu sedikit lembap–hujan turun mengguyur kota sejak siang. Tapi pria itu tak bergeming dari tempatnya–meski hujan kembali turun. Pria itu, yang tetap saja di sana hingga malam tiba, akhirnya memang tak menemukan seseorang yang dicintainya datang ke sana; menemuinya. Tapi ia tahu ia telah menemukan hal-hal baru ketika (kembali) berdiri di sana.

Ia tahu perempuan yang ditunggunya selama ini adalah seseorang yang tak lagi mencintainya. Tapi ia segera tahu, antara hujan dan panas selalu menyisakan jeda. Pada titik itu ia berdecak: “Tuhan memang paling pandai berahasia.”

Tapi apa yang rahasia? Sejauh mana ia mempengaruhi kita?

Pria itu telah menunjukkannya. Dengan datang saban hari ke sana, ia seolah ingin menegaskan, bahwa terminologi menunggu kiranya bisa begerak menjadi laku keseharian; rutinitas.

Bukankah dalam sehari kita bisa berkali-kali melakukan aktivitas menunggu ini? Ketika di bank, SPBU, minimarket, dll., kita dipaksa untuk melakukannya–meski tak lama. Tapi selalu saja konstan.

Kita bi(a)sa menyebutnya antre. Tapi untuk sesuatu yang berulangkali terjadi, istilah menunggu agaknya lebih tepat. Dan ah, siapa juga yang mau menyebut dirinya sedang antre untuk cinta?

Tapi apa yang membuat pria itu akhirnya pergi juga dari sana? Cemaskah ia akan ketidakjelasan nasibnya ketika menunggu perempuan itu?

Tentu saja ia tak cemas. Ia bahkan tersenyum ketika malam dan hujan menggiringnya untuk pulang lebih awal saat itu. Dan ia pun sudah berada di sana sejak tiga tahun terakhir; ia sudah terbiasa.

Apa yang ia lakukan–dengan memutuskan tak lagi kembali ke sana–sejatinya adalah laku menerima. Ketika memutuskan untuk pergi, sebenarnya kita tak sekaligus memutuskan untuk lupa–pun dengan pria itu.

Ia tahu esok akan tiba hingga ia meyakinkan dirinya: ia hanya perlu bersabar dan berpikir terbuka. Ada laku menerima yang ia tilaskan di sana. Dan agaknya, itulah yang membuatnya berbahagia.

Tapi, nun jauh di sebuah jarak, seorang perempuan terjebak dalam sebuah tempat. Ia ingin keluar, tapi badai terlalu liar untuk ditaklukkan oleh sepasang betis mungilnya. Ia tak takut hujan sebenarnya, tapi ia tahu maut selalu ada dalam tiap gerak alam; ia tentu tak ingin mati sia-sia.

Perempuan itu adalah ia yang ditunggu pria tersebut. Ia tahu, dalam hidup, selalu ada waktu untuk menunggu. “Itukah sebabnya ruang tunggu diciptakan?” katanya suatu waktu. Tapi ia tahu, sebagaimana pria itu, tuhan memang paling pandai berahasia. Itu sebabnya ia tersenyum saat daun-daun gugur di halaman; di luar, anak-anak bermain hujan di sebelum ibu mereka mengganjar kaum belum berdosa itu dengan pukulan–atas ulahnya dan agar ia pulang.

Yang perlu ia lakukan kini hanya menanti–yang mungkin lebih syahdu ketimbang menunggu. Meski, ketika hujan nanti reda, ia tahu pria itu tak ada lagi di sana.

Mereka memang tak bertemu akhirnya, dan tak harus–karena jalan cerita ini akan berbeda nantinya. Tapi mereka tak sia-sia; mereka telah membiarkan sesuatu yang lebih berharga berjalan dalam ketetapan Yang Maha Kuasa: cinta yang tak sekadar, dan tak mesti, bertemu muka. Tapi cinta yang memberi ruang pada sesuatu yang lebih berharga: jeda. Persis seperti hujan dan panas dalam siklus bernama cuaca.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *