Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Bahaya Laten Kesepian

2 min read

“Gusti, apakah Kau juga kesepian?” — Triyanto Triwikromo

Tiga jam sudah Niu (17) berdiri di balkon rumahnya. Baba Liem, kakeknya, yang resah akan hal itu, terus memanggilnya untuk turun. Seorang kawan Niu, kata Baba Liem, menunggu sejak setengah jam lalu: Niu dan kawannya sudah janjian untuk belajar bersama.

Namun, Niu, gadis manis berperawakan bak perempuan-perempuan di film Mandarin itu, bergeming.

Ia kemudian hanya beringsut untuk mengambil air putih di atas meja dan beberapa potong kue Mochi. Baba Liem yang kian terkepung resah, menyeru, “Niu, temuilah kawanmu itu dulu.”

Lantaran tak ingin mati gaya, saya naik ke lantai dua rumah toko (Ruko) mereka itu. Ketika memegang tangannya di ruang 4 x 6 meter itu, saya katakan, “Kawanmu sudah menunggu. Tak baik kalau janji tak ditepati.”

Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Tak lama, ia menjawab, “Kalau dia butuh, dia pasti naik sendiri.”

Sejak kejadian itu, Baba Liem yang biasanya ceria, mulai murung. Ia uring-uringan melihat keadaan fisik dan mental cucunya itu. “Niu makin apatis,” ucap Baba Liem sambil menyeruput kopinya, suatu pagi.

Baba benar: kesepian membuat orang kehilangan nilai-nilai (sosial) di dalam dirinya.

Niu merasakan itu untuk beberapa waktu: ayahnya ke Batam, Kepulauan Riau, sedangkan ibunya ke Singapura. Bukan tanpa asalan; semua bermula dari kerusuhan 1998 — cerita yang saya peroleh dari Baba Liem.

Kata Baba, Niu baru tahu kalau dia dan orangtuanya selama ini terpisah karena dampak dari peristiwa kelam itu. Memang, sejak kecil —mungkin usia 6 hingga 8 tahun-, Niu tinggal bersama Baba.

Saya kenal mereka tak terlampau lama, tetapi berkesan. Dari lelaki itu saya banyak belajar soal menyikapi hidup, terutama sebagai perantau.

“Tak lama Niu akan begitu,” kata Baba. Saya tersenyum; Baba selalu optimistis

Di luar Niu, yang “kehilangan” keriangan, ada banyak kawan yang mengeluh soal kesepian. Mereka bilang, tanpa cinta, segalanya berakhir sebagai kehampaan.

Apa benar?

Tentu saja. Namun, di usia muda begini, ada banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan buat menangkis sepi itu. Merangkai bunga, misalnya.

Itu seperti yang dilakukan seorang kenalan saya, dulu. Ibu muda yang suaminya meninggal itu sempat stres berbulan-bulan lamanya. Anaknya yang paling kecil —dari tiga bersaudara- nyaris tinggal tulang berbalut kulit jika saja para tetangga mereka tak tanggap dan lekas memberi bantuan.

Kesabaran para tetangga yang baik itu membuahkan hasil. Tak lama, ibu muda itu bangkit dari rasa keterpurukan yang nyaris merenggut banyak hal dalam hidupnya.

Sekali waktu, seraya menyiapkan perkakas untuk merangkai bunga, ia bicara dengan nada rendah, “Maaf. Dulu itu saya kesepian. Untung tetangga di sini baik.”

Sebegitu beringasnya kesepian memasung orang-orang hingga mungkin kita harus bilang: “Tak ada yang bisa lari dari kutukan itu!”

Sebab, itu pula yang selalu terjadi tiap kali saya harus menghadapi “pria kesepian” satu ini; ia selalu mengadu jika kami bertemu: “Kesepian tak ada obatnya.”

Itu lucu, tentu saja. Yang tak ada obatnya itu hanya lupa — sebagai kodrat manusia. Nietzshe, lewat Daimon, menjelaskan dengan terang: Hanya di tempat sepi, hanya dalam kesunyianlah orang-orang yang benar-benar berpikir akan merasakan kehadirannya.

Sudahkah kawan tadi melakukan itu? Tentu saja belum. Ia bahkan tak mampu menjelaskan kesepian akan apa yang dirasakannya itu — entah karena cinta yang ditolak, lamaran pekerjaan yang tak kunjung berterima, keputusasaan yang menjerat, dan lainnya, atau bagai empat larik awal puisi “Sepisaupi” karya Sutardji Calzoum Bachri berikut:

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

Atau memang kesepian, sebagaimana halnya paradigma orang-orang di negeri ini soal Marxisme dan Komunisme, memang kadung jadi bahaya laten — yang tak ada penawarnya, tak ada penangkalnya? Tidak, tentu. Sebab, sudah jamaknya jika yang terpendam mesti digali, tetapi bukan untuk ditinggikan, melainkan buat diuji.

Ujian, tentu saja, soal waktu dan pembelajaran yang tekun. Kesepian, betapa pun panjang dan beratnya, juga menghendaki itu.[]

Tulisan ini tayang di rubrik “Romantika” Riaurealita.com, Ahad (23 April 2017)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *