Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Angkuh

1 min read

Kita mendadak jadi angkuh ketika ada sesuatu yang, seolah tak tertaklukkan sebelumnya, berhasil kita rengkuh.

Tapi pada yang telah terengkuh bukan berarti kita dapat berkuasa penuh. Ada hal-hal penting yang perlu dijaga agar hal itu purna dan utuh: batasan-batasan antara hak kita merayakan kemenangan itu dan harga diri orang lain; bagaimana menampik pujian tanpa merendahkan pencapaian itu sendiri; dan sejauh mana yang terengkuh ini akan berpengaruh.

Mungkin pula keangkuhan terjadi karena dua hal: ketidakmampuan kita memaknai kegagalan di masa lampau, atau betapa kita yang terlalu optimis dengan masa depan yang sejatinya juga masih terang-kabur.

Apa pun itu, sejatinya keangkuhan memang tak pernah bisa dibenarkan. Sebab angkuh, yang berarti memandang rendah orang lain, adalah bumerang, adalah lembing yang kerap mencelakakan pemiliknya sendiri.

Ada satu pepatah Belanda yang sering diulang-diulang J. Sahetapy: “Ketika kesombongan sudah tampak maka kejatuhan sudah dekat.”

Tapi profesor hukum itu mungkin turut menyadari, bahwa jika dengan kesombongan saja seseorang bisa jatuh, maka apa yang akan terjadi dengan laku angkuh? Barangkali jawabnya: kehilangan harga diri.

Hal ini pula yang terjadi pada iblis di surga. Ketika Tuhan memintanya untuk sujud pada Adam ia tak mau, ia menampiknya. Dua hal yang ia cederai di sana: perintah Tuhan dan pentingnya menghargai sesama (Adam). Yang terjadi pada iblis selanjutnya, pada makhluk yang memiliki keangkuhan kali pertama itu, adalah pengusiran, yang kita tahu, bagaimanapun juga, selalu berkonotasi negatif.

Tapi kisah dan riwayat itu pula kiranya yang jadi pedoman kita hari ini, bahwa laku angkuh memang kerapkali membuat si pemiliknya akan terbuang jauh. Ia, si pemilik rasa angkuh tadi, bisa terasingkan, atau bahkan, kerap tercerabut dari puaknya, dari lingkungannya sendiri.

Tapi kita segera tahu pula satu hal: segala tindakan, baik kebaikan maupun kejahatan, akan memarakkan dirinya dalam wilayah itu. Maka dalam hal ini, angkuh, yang merupakan bagian dari kejahatan, tentu akan merangsang datangnya sifat-sifat jahat lainnya.

Banyak orang-orang yang angkuh dengan kekuasaan, misalnya, tiba-tiba berubah menjadi seorang kikir dan pendusta. Atau seseorang yang baru mewujudkan impiannya, misalnya, tiba-tiba menjadi seorang kritikus dadakan atas kegagalan orang lain yang tampak di pucuk hidungnya–akibat keangkuhan yang dimilikinya.

Maka, memeram sifat angkuh, sebesar apa pun, kiranya memang mengikis rasa santun. Dan jika dengan analogi dan pemisalan kisah iblis yang terusir itu kita tak kuasa membanyangkan bagaimana sifat angkuh akhirnya meluputkan keba(j)ikan ribuan tahun, maka apa jadinya sifat angkuh di bumi dengan segala kebaikan yang masih hitungan tahun alias belum seberapa?

Tapi mungkin kita perlu juga menyaksikan (laku) orang angkuh agar kita tahu, bahwa hidup, yang tak lama ini, hanya sekadar ruang tunggu, ruang berteduh.

Alhasil, dalam satu situasi tentang keramaian sebuah tempat yang dipakai untuk berlindung dari hujan, bukankah selalu saja kita temukan orang-orang yang berlagak kuasa menembus deras cucuran rahmat itu namun tak pernah membuktikan ucapannya? Apa ia butuh payung? Tentu saja tidak, sebab hal itu, menurutnya, akan “mengurangi” harga dirinya.

Maka kita memang perlu orang angkuh, agaknya, agar kita tahu, bagaimana sialnya hidup tanpa laku berpura-pura; agar kita tahu, dalam pencapaian, kiranya, ada hal-hal yang akhirnya jadi sia-sia.[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Pagi

Avatar Boy Riza Utama
56 sec read

Khawatir

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Perempuan Itu … (2)

Avatar Boy Riza Utama
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *