Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Angkatan Muda di “Rahim Bahasa”

5 min read

Tradisi literasi yang begitu kuat di Riau, tidak terlepas dari fungsi sentral negeri ini sebagai rahim dari kelahiran bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Bukan tidak beralasan, jika para pemuda yang berkongres pada tahun 1928 itu, mengangkat marwah bahasa Melayu ke tingkat nasional, yang mengukuhkan bahasa ini sebagai “ibu” dari sekian banyak bahasa yang merupakan akar kebudayaan. Sebagai sebuah bahasa, Melayu dipandang menyimpan keintiman yang bukan tidak dimiliki oleh bahasa lain, namun karakteristik bahasa ini sendiri yang telah menguatkan tubuhnya untuk tegak berdiri.

Bahasa Melayu adalah lingua franca yang bertebaran di sekitar kita, menjadi jantung pemompa kehidupan di setiap kegiatan masyarakat. Bahasa yang menjadi keseharian bagi yang bermata pencaharian di darat dan di laut. Sebuah bahasa yang diterima universal dan begitu komprehensif dalam bidang perdagangan, yang saat itu menjadi urat nadi penghidupan bagi masyarakat Nusantara, sejak era Portugis, Inggris, Belanda sampai Jepang. Bahasa yang dipertahankan dan dipertaruhkan eksistensinya dalam perwujudan cita-cita kemerdekaan bagi segenap jiwa yang menghendaki perubahan. Meskipun sejarah mencatat, bahwa pengukuhan ini, tidak serta merta melegitimasi bahwa nasional adalah Melayu atau yang mesti terikat dengannya. Masih ada pengaruh dan serapan dari bahasa lain di Nusantara, yang dipandang memiliki keterwakilan dan bersumbangsih terhadap kemajuan peradaban. Sebab krisis tentang apakah sebenarnya nasional, adakah aforisme yang dapat menerang-jelaskannya, masih menjadi kerisauan yang coba dijawab oleh pemuda-pemuda dari sekian daerah, dengan pertemuan yang kala itu diketuai Mr. Muhammad Yamin.

Adanya keinginan untuk mengedepankan sebuah perikebangsaan — yang salah satunya tercermin lewat kesatuan bahasa — telah melebur keberagaman latar belakang budaya yang diusung oleh masing-masing pemuda dari berbagai daerah. Ini adalah monumen pertama yang berhasil ditinggikan oleh para pemuda, yang dengan segenap kesadarannya mampu menciptakan ruang bernama nasional dengan penyatuan-penyatuan, yaitu tanah air, bangsa dan bahasa. Sebuah gerakan yang pada akhirnya kembali memantik api perjuangan dari sebuah negeri yang terlihat stagnan di bawah deru mesin penjajahan.

Dalam sebuah petikan wawancara dengan jurnalis asing, seorang sastrawan di era Demokrasi Terpimpin, yakni Pramoedya Ananta Toer, berusaha menjawab bagaimana kronik sejarah tentang penyatuan Nusantara. Menurutnya, Belanda menyatukan Nusantara secara administratif dan Bung Karno menempuh jalur politik. Sementara kesatuan itu, masih menurut Pram, telah ada semenjak bumi kita satu, sehingga ia berkesimpulan bahwa kesatuan Nusantara lebih condong pada kesatuan maritim. Suatu kesatuan yang disebabkan oleh kesamaan garis pantai, dengan teritorial dan geografis wilayah yang dipersamakan oleh kedaulatan laut yang sama, selain persamaan nasib dalam masa penjajahan yang dialami oleh seluruh daerah yang kelak satu di bawah nama Indonesia.

Menelisik kembali pergerakan angkatan muda dalam era kolonialisme, sebagai pionir bagi perubahan wajah zaman, tentu tidak terlepas dari semangat yang diusung dan beban yang dipikul oleh pemuda-pemuda yang tengah bergelora ini. Dibutuhkan pemikiran-pemikiran “muda” dan diwujudkan melalui tindakan nyata. Semua pada akhirnya berujung pada raihan yang mutlak, yaitu kemerdekaan yang selama ini dicita-citakan. Lalu di mana peran angkatan muda (Riau) pada hari ini, jika kita memperbincangkan tradisi literasi yang berakar pada bahasa tadi? Apakah angkatan muda dengan gairah penciptaan dan jernihnya pemikiran (sebab belum ditunggangi/disusupi nilai-nilai destruktif partai politik), telah melakukan suatu pergerakan yang nyata dalam denyut kesusastraan Riau hari ini, tentu merekalah yang dapat menjawabnya, dengan terus menghasilkan karya-karya yang merekonstruksi kembali kebesaran tradisi literasi sejak zaman Raja Ali Haji, Idrus Tintin sampai rupa kebudayaan paling baru. Sebab marwah (kebudayaan) negeri bertuah ini, selanjutnya berada di pundak mereka. Mereka jualah yang akan mempertanggungjawabkan masa-masa kepengarangan di kurun ini terhadap pertanyaan-pertanyaan dari generasi selanjutnya di masa mendatang. Apa yang telah dilakukan, sejauh apa peranannya dalam memajukan tradisi literasi yang besar tadi, akan menentukan bagaimana peran dan pengaruh mereka ke depan. Akankah dikenal, dikenang atau sama sekali tidak tercatat dalam sejarah kesusastraan Riau itu sendiri.

Pada rubrik “Senggang”, tertanggal 1 Juni 2014 yang lalu, Marhalim Zaini menuliskan sederet nama-nama yang dianggapnya memiliki keterwakilan dalam angkatan muda yang saya singgung di atas. Dalam artikel yang diberi judul “Riau Pos dan Generasi Baru Penyair Riau”, sejumlah nama diurai oleh Budayawan Pilihan Sagang 2011 itu, “…Dalam pengamatan saya, generasi baru itu, adalah para penulis (berusia) muda, yang masih tengah berada dalam gairah penciptaan. Puisi-puisi yang mereka ciptakan, meski dengan “kekuatan” yang beragam, dengan intensitas produktivitas yang naik-turun, bolehlah kita menaruh harapan bahwa masa depan kepenyairan (Riau) berwajah gemilang. Nama-nama seperti May Moon Nasution, Cikie Wahab, Riki Utomi, Ahmad Ijazi H, Anju Zasdar, Muhammad Asqalani Eneste, Jumadi Zanu Rois, Fatih El Mumtaz, Cahaya Buah Hati, Jasman Bandul, Alvi Puspita dan Boy Riza Utama (yang puisinya saya muat minggu ini), adalah para penyair yang kerap mengisi halaman puisi di Riau Pos, adalah juga para penyair masa depan kita…” Meski pada akhirnya, nama-nama yang disebut oleh Marhalim nyatalah hanya sepersekian dari nama-nama (muda) lain yang juga bergiat di ranah kesusastraan hari ini, tetapi yang patut dipahami adalah, bagaimana keresahan Marhalim yang juga diaminkan sebagai keresahan Riau itu sendiri, terkait minimnya wajah-wajah baru yang tunak berkebudayaan, yang seharusnya menyentuh titik jenuh dalam perkembangan khazanah kepengarangan (di) Riau saat ini. Sehingga perlu untuk menyebut nama-nama (muda) yang kelak akan mewarisi kebesaran sejarah ini. Bukan untuk melabeli menurut saya, tapi lebih kepada tugas untuk menyadarkan kembali (pada angkatan muda ini), agar mereka tidak terbuai dalam kebesaran pendahulunya, tanpa mengambil pelajaran dan hanya berpuas hati sebagai pengarang yang dikenali di rahimnya semata, yakni Riau, sebagai rahim bahasa. Senada dengan kegelisahan Marhalim berikutnya, “…Atau, mereka akan berhenti di tengah jalan. Berhenti mencari, dan stagnan, oleh godaan-godaan lain di dalam diri mereka. Berhenti, karena mengira bahwa sekali-dua muncul namanya di media massa, adalah legitimasi yang tak mudah terhapus dalam memori publik. Berhenti, karena merasa telah menjadi “penyair.” Berhenti, karena memang tujuannya menulis puisi, hanya iseng, tidak hendak menjadi “penyair.” Atau, berhenti karena memang (sejak lama), puisi “tak mampu” memberi “makan” bagi penyairnya…”

Sampai pada pernyataan tersebut, angkatan muda yang disebutkan tadi, akan terjebak dalam sebuah paradoks, jika hanya berpuisi belaka tanpa merasa menjadi bagian dari puisi (kebahagiaan/kesedihan masyarakat) itu sendiri. Mencermati kondisi (kesusastraan) seperti ini, tentu angkatan muda akan dihadapkan pada tugas berat dan tanggung jawab yang mesti ditunaikan. Selain berat menanggung nama besar Riau sebagai rahim bahasa, tugas lainnya adalah melawan “godaan lain dalam diri sendiri.” Godaan yang kerap hadir dalam sebuah perjalanan. Sebuah tarik-ulur dalam batin seseorang yang tengah berada di satu titik kehidupan. Maka langkah pertama yang penting pada konteks ini, tak lain adalah melawan godaan-godaan itu, membulatkan niat dan tekad untuk bersungguh-sungguh dalam “pilihan hidup” sebagai pengarang. Lalu berusaha menciptakan karya-karya yang dapat dipertanggungjawabkan dan mencerdaskan, memotret kegelisahan dan hal-hal lain yang memberikan pencerahan ke depannya.

Bukankah puak Lancang Kuning ini seakan berkarib dengan perasaian? Lalu di mana pertanggung jawaban angkatan muda terhadap kondisi yang seperti ini? Bukankah mereka adalah suara-suara kritis yang akan didengar keluh-kesahnya? Jika angkatan muda ini terpusat pada kegelisahan pribadi yang dangkal, tak mewakili, dan monoton belaka, tentu hal ini akan melemahkan semangat kesusastraan itu sendiri. Lantas tugas berikutnya, adalah membawa kerisauan ini keluar, memperdengarkan perasaian-perasaian yang harus pula didengar oleh saudara-saudara lain di luar Riau. Peran media massa yang menyediakan lembar sastra di luar Riau, adalah sarana yang memang harus dipergunakan untuk tujuan ini. Hal ini dimaksudkan agar gemaung kerisauan yang besar tadi bukan hanya kicau yang diterima oleh puak sendiri.

Angkatan muda sudah sepantasnya bergerak dan memobilisasi karya-karya mereka keluar dari ranahnya, demi tugas mencerahkan tadi (bukan sebagai ajang mencari popularitas belaka). Sehingga kerja kebudayaan yang diserahkan kepada mereka dan tanggung jawab untuk kembali mengangkat kebesaran tradisi literasi (Riau) tersebut, dapat segera terwujud. Untuk itu, dibutuhkan lebih dari sekadar karya, yakni manusia yang menjadi karya itu sendiri. Kita dapat saksikan, bagaimana angkatan muda yang disebut oleh Marhalim Zaini tersebut, telah bergerak keluar dari batas-batas (lokal) dunia kepengaran (Riau).

Nama-nama seperti May Moon Nasution dengan karya-karyanya yang pernah menembus Kompas, Koran Tempo, Jurnal Nasional, Indopos, dsb, yang masih dinantikan untuk kembali ke kancah nasional dengan karya-karya teranyar miliknya, sejatinya adalah motor penggerak bagi pengarang-pengarang baru, pun yang segenerasi dengannya. Lalu ada Cikie Wahab yang meluaskan cerita pendeknya sampai ke Jawa Timur melalui Jawa Pos dan media-media di luar Riau lainnya yang tak tersebutkan. Ada pula Cahaya Buah Hati yang telah mendarat di lembar sastra asuhan Presiden Penyair Indonesia (Sutardji Calzhoum Bachri), Indopos. Riki Utomi yang telah merambah Lampung Post, Banjarmasin Post, juga sederet nama-nama lain yang telah dan masih ditunggu serangannya (meminjam istilah Marhalim) terhadap lembar-lembar sastra di luar Riau (termasuk penulis sendiri). Pergerakan yang telah, terus dan perlu menjadi catatan bagi keberadaan angkatan muda dan generasi baru Penyair Riau, seperti yang diharapkan dan digadang-gadangkan.

Namun di satu sisi, peran seorang motivator atau penggerak dan penggiat kesusastraan (di Riau) dalam hal ini juga penting. Mereka akan turut ambil bagian dalam perjuangan menemukan kejayaan bagi dunia kepengaran Riau kembali. Apakah itu diimplementasikan melalui tulisan-tulisan yang bersifat sebagai suplemen bagi angkatan muda yang tengah bergerak ini, kajian-kajian dan diskusi-diskusi kritis, atau membangun komunitas-komunitas yang dirasa mampu untuk mengampu tugas yang berat ini. Agar ke depannya, generasi baru, yaitu angkatan muda ini tidak lagi dianggap sebagai wajah-wajah yang mewakili dirinya sendiri. Tapi lebih dari itu, merekalah yang akan kembali membangun reruntuhan dunia kesustraan yang semakin kehilangan gaung di tingkat nasional tersebut.

Mereka tidak hanya singgah atau sekadar melihat reruntuhan itu tanpa berniat membangunnya kembali, sekalipun sebatas menegakkan kembali pondasinya. Merekalah yang akan mencerdaskan masyarakat dan bangsanya yang kian hari seperti memiliki kecenderungan buta sejarah dan rabun sastra. Dan peran motivator ini juga bukan hanya sebagai pengamat yang kemudian berlepas tangan terhadap krisis kepengaran di Riau dan cakupannya yang nyaris terbatas. Tetapi sebagai penanggung jawab yang selanjutnya dapat melihat, bagaimana jalan kepengarangan angkatan muda yang telah mereka asuh sedemikian rupa itu ke depannya.

Tentu, ini adalah tugas dan kerja bersama. Bukan hanya tugas para pendahulu untuk terus berpikir dan berkarya agar sastra tidak temaram di Riau, tetapi juga menjadi tugas dari angkatan muda dalam dunia kepengarangan (Riau) yang hari ini kembali dengan wajah-wajah berserinya. Wajah-wajah yang semoga tidak hanya menumpang nama dan duduk sebentar lalu pergi, atau duduk lama tanpa pernah berpikir dan berusaha untuk kemajuan sastra (Riau). Wajah-wajah generasi baru yang diharapkan orang sekaumnya dapat menjawab musim kemarau dunia kepengarangan (Riau) dengan hujan segar berupa karya-karya yang mengembalikan kejayaan “rahim bahasa”, yang mencerdaskan tentunya.[]

Tulisan ini tayang di halaman “Esai” Riau Pos, Ahad (30/11/2014)

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *