Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

1965-1969

2 min read

Upik kecil tak bisa menyembunyikan hasrat kanak-kanaknya untuk bertanya ketika menemukan satu jilid koran Harian Rakjat yang mungkin milik ayahnya pada suatu hari yang tak ditandai.

“Ini apa, Ayah?” kira-kira begitu pertanyaan yang keluar dari bibir bocah perempuan itu.

Ayahnya menjawab, “Jangan dibaca. Itu punya orang komunis. Nanti kamu ateis.”

Bertahun-tahun setelah kejadian itu, Upik baru tahu jika bacaan yang dulu ia temukan itu adalah koran milik Partai Komunis Indonesia (PKI). Terlebih lagi setelah isu kudeta yang gagal di Jakarta lekas menyebar di kampungnya, di suatu daerah di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Tak pelak, kabar yang berembus cepat itu seketika memicu kemarahan orang-orang yang tak sejalan konon lagi berafiliasi di bawah bendera palu-arit, termasuk di kampung Upik.

Namun, bagai api dalam sekam, kebencian itu ternyata selama ini tersembunyi dalam ingatan dan hati orang-orang kampung Upik. Maka, ketika derap sepatu lars mulai berketipak di sekeliling kampung, yang bisa dilakukan orang-orang di kampung Upik itu hanyalah mengurung diri rapat-rapat di dalam rumah atau ikut menggebuk karena dulu merasa pernah menjadi korban dari intimidasi simpatisan atau bahkan anggota partai besutan Aidit dkk. itu.

Apabila dirunut ke belakang, kata Upik, sepak terjang PKI pada masa-masa itu memang sangat menggentarkan. Terlebih bagi mereka yang memilih berdiri di luar Barisan Tani Indonesia (BTI) atau juga Pemuda Rakjat (PR) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Pasalnya, garis politik yang dianut oleh Soekarno pada masa itu memang lebih condong ke kiri.

Dalam pada itu, isu mengenai orang-orang komunis yang dicap tak-bertuhan itu, imbuh Upik, memang sudah lama berembus. Tindakan dan sikap anggota BTI daerah itu mungkin bisa dijadikan contoh. Massa PKI itu, kata Upik, pernah menerakan logo palu-arit di dinding musala kampungnya.

Syahdan, sejak Soekarno menyatakan bahwa Indonesia sedang memasuki Tahun “Viveri Pericoloso” (Tavip), situasi politik memang kian mencekam. Jargon-jargon politik jadi makanan sehari-hari. Kericuhan yang memang sudah diramalkan saat itu mungkin segera terjadi. Puncaknya, ketika genderang kemarahan ditabuh oleh isu kudeta yang gagal, orang-orang kampung Upik pun tak bisa lagi menyembunyikan emosi mereka yang selama ini tersimpan dalam hati.

Hanya saja, untuk melacak makam orang-orang yang dilenyapkan pada tahun 60’an di daerah itu memang memerlukan keberanian yang tak kalah besar dari emosi warga yang menutup rapat cerita kelam itu hingga hari ini. Maka, berbekal petunjuk dan ingatan dari seorang tua di daerah yang tak jauh dari kampung Upik, akhirnya petunjuk itu didapatkan. Sebuah batang perawas atau jambu biji yang tertanam di sebuah bukit, konon diyakini warga sekitar sebagai tanda bagi kuburan massal dari orang-orang kiri tersebut.

Tetua itu bercerita, massa pada saat itu dibantu oleh orang-orang kampung yang dikumpulkan oleh RPKAD atau TNI Angkatan Darat (TNI AD). Rata-rata mantan simpatisan Masyumi dan PNI yang memang banyak di kampung ini.

Meski begitu, warga sendiri belum berani untuk mengklaim bahwa lokasi tersebut memang menjadi tempat eksekusi sekaligus makam bagi mereka yang dituduh berafiliasi dengan PKI tersebut. Hal itu karena isu tersebut hanya berkembang dari mulut ke mulut dan menjadi rahasia tersendiri bagi warga sekitar.

Lebih jauh, ketika ditanyakan perihal anak-cucu dari orang-orang yang dituduh sebagai simpatisan tersebut, warga memilih bungkam. Hal itu, kata seorang warga, demi menghindarkan bangkitnya luka lama dan sekaligus demi meniadakan dendam di antara mereka.

Namun, untuk daerah lainnya, yang masih satu teritorial dengan kecamatan itu, tetua warga itu sempat membeberkan beberapa nama yang ditengarai bergabung dengan PKI.

Sementara itu, beberapa pemuka adat yang ditemui membenarkan bahwa di daerah mereka dahulunya memang terdapat orang-orang yang dicurigai sebagai bagian dari PKI. Indikasinya, kata salah satu pemuka adat yang ditemui, terlihat ketika serombongan warga terlihat datang ke kantor kecamatan untuk menerima bantuan cangkul dan sabit beberapa bulan sebelum kudeta meletus di Jakarta. Konon, kata dia lagi, itu program PKI.

Terlepas dari itu semua, kajian demi kajian demi terungkapnya fakta sejarah itu memang terus digalakkan. Bahkan, ketika masih menjabat sebagai Menko-Polhukam, Luhut Binsar Pandjaitan juga sempat mewacakan agar sebuah tim melacak kebenaran dari keberadaan makam orang-orang yang dilenyapkan pada tahun-tahun yang bergejolak tersebut. Hanya saja, wacana itu sendiri saat ini masih belum menemukan titik terang. Terlebih lagi setelah Luhut digeser ke posisi Menko-Kemaritiman, yang sebelumnya ditempati Rizal Ramli.

Namun, akankah pemerintah berani bergerak “sejauh” itu?[]

Avatar
Boy Riza Utama Menulis puisi, dan, sesekali, esai serta artikel, yang dimuat di sejumlah media massa—lokal dan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *